Jumat, 09 November 2012

Hubungan Keterampilan Menyimak dengan Keterampilan Berbahasa Lainnya


Hubungan Keterampilan Menyimak dengan Keterampilan Berbahasa Lainnya


2.1.3    Hubungan Keterampilan Menyimak dengan Keterampilan Berbahasa Lainnya 
1.    Hubungan Keterampilan Menyimak dan Keterampilan Berbicara
Keterampilan menyimak dan keterampilan berbicara merupakan bentuk komunikasi dua arah. Bentuk komunikasi dua arah itulah yang antara lain dapat melandasi pikiran untuk menguraikan hubungan keduanya lebih lanjut, Brooks dalam Tarigan (1994 : 3) menjelaskan bahwa menyimak dan berbicara merupakan kegiatan dua arah yang langsung,   merupakan komunikasi tatap muka atau face to face communication.
Tarigan (1994 : 3) mengemukakan bahwa bunyi suara merupakan suatu factor penting dalam peningkatan cara pemakaian kata-kata sang anak. Oleh karena itu, maka sang anak akan tertolong kalau mendengarkan serta menyimak ujaran-ujaran yang baik dan benar dari para guru-guru, rekaman-rekaman yang bemutu, cerita-cerita yang bernilai tinggi, dan lain-lain.
Dari dua pendapat tersebut dapat dikatakan bahwa keterampilan menyimak dan berbicara mempunyai hubungan yang banyak erat. Sebabseorang pembicara pasti memerlukan orang yang akan mendengarkan pembicaranya (penyimak).

2.    Hubungan Keterampilan Menyimak dan Keterampilan Membaca
Keterampilan menyimak dan keterampilan membaca sering kali diperoleh secara bersama-sama dan tunjang menunjang sehingga dapat dikatakan bahwa keduanya mempunyai hubungan yang sangat erat. Keeratan ini diperjelas dengan pendapat, ”Untuk  meningkatkan hasil yang hendak dicapai dalam membaca, maka seyogyanyalah setiap keterampilan menyimak diikuti oleh kegiatan membaca yang sesuai   dengan tujuan menyimak tersebut. Dengan kata lain listening gaols harus diikuti oleh reading activity” (Tarigan 1994 : 7). 
Keterampilan menyimak juga merupakan factor penting keberhasilan seseorang dalam belajar membaca secara efektif. Penelitian para pakar atau ahli telah memperlihatkan beberapa hubungan antara menyimak dengan membaca sebagai berikut:
a.    Pengajaran serta petunjuk-petunjuk dalam membaca disampaikan oleh sang guru melalui bahasa lisan, dan kemampuan sang anak untuk menyimak dengan pemahaman ternyata penting sekali.
b.    Kosa kata simak (listening vocabulary) yang sangat terbatas mempunyai kaitan dengan kesukaran-kesukaran dengan membaca secara baik.
c.    Pembeda-pembeda atau diskriminasi pendengaran yang jelek seringkali dihubungkan dengan membaca yang tidak efektif dan mungkin merupakan suatu factor pendukung atau suatu factor tambahan dalam ketidakmampuan membaca (poor reading).
d.    Menyimak turut membantu sang anak untuk menangkap ide pokok atau gagasan utama yang diajukan oleh sang pembicara; bagi para siswa yang lebih tinggi kelasnya ternyata bahwa membaca lebih unggul daripada menyimak sesuatu yang mendadak dan memahami informasi yang terperinci (Tarigan 1994 : 4).
Hubungan keterampilan menyimak dengan keterampilan membaca merupakan komunikasi dua arah. Achsin (1983 : 11) menjelaskan bahwa:   
Menyimak itu bukanlah keterampilan pasif, sebab selama seseorang menangkap ujaran baik bahasa lisan maupun bahasa tulisan, maka mental orang tersebut terlibat secara aktif mungkinkah lebih baik dikatakan keterampilan menyimak itu disebut keterampilan reseptif karena selama berlangsungnya kegiatan, orang selalu aktif menerima, menangkap, memahami, dan mengingat  ujaran yang disampaikan.
Tarigan (1986 : 8) sendiri mengemukakan bahwa membaca dapat pula diartikan sebagai suatu metode yang kita pergunakan untuk berkomunikasi dengan diri kita sendiri dan kadang-kadang dengan orang lain yaitu mengkobinasikan makna yang terkandung atau tersirat dalam lambing-lambang tertulis.
Dari kedua pendapat tersebut menimbulkan kesan bahwa menyimak dan menbaca merupakan dua bentuk komunikasi.Bentuk komunikasi dan keterampilan tersebut menyisyaratkan bahwa menyimak dan membaca mempunyai hubungan yang erat.Sebab, menyimak adalah menerima, menangkap, dan mengingat ujaran yang dsisampaikan oleh pembaca dan tentu makna bacaan memerlukan kegiatan lebih lanjut untuk disimak.
3.    Hubungan Keterampilan Menyimak dan Keterampilan Menulis  
Sewaktu menulis, seseorang butuh inspirasi, ide, atau informasi untuk tulisannya. Hal ini dapat diperoleh dari berbagai sumber, sumber tercetak seperti buku, majalah, surat kabar, jurnal atau laporan. Sedangkan dari sumber tak tercetak seperti radio, televisi, ceramah, pidato, wawancara, diskusi dan obrolan.Jika dari sumber tercetak informasi itu diperoleh dengan membaca, maka dari sumber tak tercetak diperoleh informasi itu dengan menyimak.
Di dalam perkuliahan, seorang mahasiswa membuat saat dia menyimak penjelasan dosen.Demikian halnya seorang penulis, dia harus pandai-pandai menyimak suatu informasi yang baru sebagai bahan tulisannya.Melalui menyimak suatu informasi yang baru sebagai bahan tulisannya. Melalui menyimak ini penulis tidak hanya memperoleh idea tau informasi untuk tulisannya, tetapi juga menginspirasi tata saji dan struktur penyampaian lisan yang menarik hatinya, yang akan berguna untuk aktifitas menulisnya (Suparno, 2004 : 1.7).  
 Pengertian keterampilan menyimak dan berbicara
Menyimak pada hakikatnya adalah mendengarkan dan memahami isi bahan simakan.Karena itu dapatlah kita simpulkan bahwa tujuan utama menyimak adalah menangkap, memahami, atau menghayati pesan, ide, gagasan yang tersirat dalam bahan simakan.
Kegiatan pengumpulan fakta atau informasi melalui menyimak dapat berwujud dalam berbagai variasi.Misalnya mendengarkan radio, televisi, penyampaian makalah dalam seminar, pidato ilmiah, percakapan dengan teman sekerja, sekelas dan sebagainya.
Menyimak adalah suatu proses yang mencakup kegiatan mendengarkan bunyi bahasa, mengidentifikasi, menginterprestasi, menilai, dan mereaksi atas makna yang terkandung di dalamnya.”Menyimak melibatkan pendengaran, penglihatan, penghayatan, ingatan, pengertia.Bahkan situasi yang menyertai bunyi bahasa yang disimak pun harus diperhitungkan dalam menentukan maknanya.
Melalui proses menyimak, orang dapat menguasai pengucapan fonem, kosa kata, dan kalimat.Pemahaman terhadap fonem, kata dan kalimat ini sangat membantu yang bersangkutan dalam kegiatan berbicara, membaca, ataupun menulis.
Penyimak yang baik apabila individu mampu menggunakan waktu ekstra untuk mengaktifkan pikiran pada saat menyimak.Ketika para siswa menyimak, perhatiannya tertuju pada objek bahan simakan. Pada saat itulah akan didapatkan proses menyimak yang efektif, menyimak yang lemah, dan menyimak yang kuat, sebagaimana dikemukakan oleh Campbell, dkk (2006:16) pada tabel berikut ini.
Tabel : Menyimak yang Efektif
Menyimak yang Efektif
Menyimak yang Lemah
Menyimak yang Kuat
1.
Temukan beberapa area minat
Menghilangkan pelajaran yang “kering”
Menggunakan peluang dengan bertanya “Apa isinya untuk saya?”
2.
Nilailah isinya, bukan penyampaiannya
Menghilangkannya jika penyampaiannya jelek
Menilai isi, melewati kesalahan-kesalahan penyampaian
3.
Tahanlah semangat Anda
Cenderung berargumen
Menyembunyikan penilaian sampai paham




4.
Dengarkan ide-ide
Menyimak kenyataan
Menyimak tema inti
5.
Bersikap fleksibel
Membuat catatan intensif dengan memakai hanya satu sistem
Membuat catatan lebih banyak. Memakai 4-5 sistem berbeda tergantung pembicara
6.
Bekerjalah saat menyimak
Pura-pura menyimak
Bekerja keras, menunjukkan keadaan tubuh yang aktif
7.
Menahan gangguan
Mudah tergoda
Berjuang/menghindari gangguan, toleransi pada kegiatan-kegiatan jelek, tahu cara berkonsentrasi
8.
Latihlah pikiran anda
Menahan bahan yang sulit, mencari bahan yang sederhana
Menggunakan bahan yang padat untuk melatih pikiran
9.
Bukalah pikiran anda
Setuju dengan informasi jika mendukung ide-ide yang terbentuk sebelumnya
Mempertimbangkan sudut pandang yang berbeda sebelum membentuk pendapat.
10.
Tulislah dengan huruf besar tentang fakta karena berpikir lebih cepat daripada berbicara
Cenderung melamun bersama dengan pembicara yang lemah
Menantang, mengantisipasi, merangkum, menimbang bukti, mendengar apa yang tersirat.
Berbicara yaitu keterampilan menyampaikan pesan melalui bahasa lisan.Keterampilan berbicara menunjang keterampilan menyimak, membaca dan menulis.Berbicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi- bunyi artikulasi atau kata- kata untuk mengekspresikan, menyatakan serta menyampaikan pikiran, gagasan dan perasaan. Sebagai perluasan dari batasan ini dapat kita katakan bahwa berbicara merupakan suatu system tanda- tanda yang dapat di dengar (audible) dan yang kelihatan (visible) yang memanfaatkan sejumlah otot dan jaringan manusia demi maksud dan tujuan gagasan- gagasan atau ide- ide yang dikombinasikan.
Lebih jauh lagi, berbicara merupakan suatu bentuk perilaku manusia yang memanfaatkan faktor- faktor fisik, psikologis, neurologis, semantik, dan linguistik
sedemikian ekstensif, secara luas sehingga dapat dianggap sebagai alat manusia yang paling penting bagi kontrol sosial.
2.2 Hubungan antara menyimak dengan berbicara
Menyimak dan berbicara merupakan kegiatan komunikasi dua arah yang langsung, merupakan komunikasi tatap muka atau face to face communication. Antara menyimak dan berbicara terdapat hubungan yang erat dari hal-hal berikut:
a) Ujaran(speech)biasanya dipelajari melalui menyimak dan meniru(imitasi)
b) Kata-kata yang akan dipakai atau dipelajari oleh sang anak biasanya ditentukan oleh perangsang(stimuli) yang ditemuinya.
c) Ujaran sang anak mencerminkan pemakaian bahasa di rumah dan dalam masyarakat tempat hidupnya
d) Anak yang masih kecil masih dapat memahami kalimat-kalimat yang jauh lebih panjang dan rumit daripada kalimat-kalimat yang dapat diucapkannya
e) Meningkatkan keterampilan menyimak berarti pula membantu meningkatkan berbicara seseorang
f) Bunyi atau suara seseorang merupakan suatu factor penting dalam meningkatkan cara pemakaian kata-kata sang anak.
g) Berbicara dengan bantuan alat-alat peraga akan menghasilkan penangkapan informasi yang lebih baik pada pihak penyimak. Umumnya sang anak mempergunakan/meniru bahasa yang didengarnya.
Dipandang dari segi bahasa, menyimak dan berbicara dikategorikan sebagai keterampilan berbahasa lisan.Dari segi komunikasi, menyimak dan berbicara diklasifikasikan sebagai komunikasi lisan. Melalui berbicara orang menyampaikan informasi melalui ujaran kepada orang lain. Melalui menyimak orang menerima informasi dari orang lain. Kegiatan berbicara selalu diikuti kegiatan menyimak, atau kegiatan menyimak pasti ada di dalam kegiatan berbicara. Dua-duanya fungsional bagi komunikasi, dua-duanya tidak  terpisahkan.
Ibarat mata uang, sisi muka ditempati kegiatan berbicara, sedangkan sisi belakang ditempati kegiatan menyimak.Sebagai mana mata uang tidak akan laku bila kedua sisinya tidak terisi, maka komunikasi lisan pun taka akan berjalan bila kedua kegiatan tidak berlangsung saling melengkapi.
2.3 Tujuan menyimak dan berbicara
·         Tujuan Menyimak
Salah satu klasifikasi tujuan menyimak adalah seperti pembagian berikut, yakni menyimak untuk tujuan:
1)     Mendapatkan fakta
Mendapatkan fakta dapat melalui kegiatan penelitian, riset atau eksperimen.Kegiatan pengumpulan fakta atau informasi melalui menyimak dapat berwujud dalam berbagai variasi misalnya mendengarkan radio, televisi, penyampaian makalah dalam seminar, pidato ilmiah, percakapan dalam keluarga.
2)      Menganalisis fakta
Fakta atau informasi yang telah terkumpul perlu dianalisis.Harus jelas kaitan antarunsur fakta. Proses analisis fakta ini harus berlangsung secara konsisten dari saat ke saat selama proses menyimak berlangsung.
3)     Mengevaluasi fakta
4)     Mendapatkan inspirasi
Adakalanya orang menghadiri suatu konvensi, pertemuan pertemuan ilmiah atau jamuan tertentu, bukan untuk mencari atau mendapatkan fakta. Mereka menyimak pembicaraan pembicaraan orang lain semata-mata untuk tujuan mencari ilham.
5)  Menghibur diri
Sejumlah penyimak datang menghadiri pertunjukan seperti bioskop, sandiwara, atau percakapan untuk tujuan menghibur diri.
6)  Meningkatkan kemampuan bicara
Cara menyimak untuk tujuan meningkatkan kemampuan berbicara biasanya dilakukan oleh mereka yang baru belajar menjadi orator dan mereka menjadi profesional dalam membawa acara atau master ceremony.
·         Tujuan berbicara
Tujuan utama berbicara adalah untuk meyakinkan pendengarnya akan sesuatu. Melalui pembicaraan yang meyakinkan, sikap pendengar dapat diubah misalnya dari sikap menolak menjadi sikap menerima.Setiap orang yang berbicara didepan umum mempunyai tujuan tertentu. Tujuan itu dapat dibedakan atas lima golongan, yakni, sbb:
1.      Menghibur
Berbicara menghibur biasanya bersuasana santai, rileks dan kocak
2.      Menginformasikan
Berbicara menginformasikan bersuasana serius, tertib, dan hening
3.      Menstimulasikan
Berbicara menstimulasi juga bersuasana serius, kadang-kadang terasa kaku.
4.      Meyakinkan
Berrbicara meyakinkan, sesuai namanya, bertujuan meyakinkan pendengarnya.
5.      Menggerakkan
Berbicara mendengarkan pun menuntut keseriusan baik dari segi pembicara maupundari segi pendengarnya.
2.4 Manfaat belajar keterampilan menyimak dan berbicara
Menyimak merupakan salah satu sarana ampuh dalam menjaring informasi. Karena itu dapat disimpulkan bahwa menyimak berperan sebagai:
1)      Landasan belajar bahasa
2)      Penunjang keterampilan berbicara, membaca, dan menulis
3)      Pelancar komunikasi lisan
4)      Penambah informasi
Berbicara adalah keterampilan menyampaikan pesan melalui bahasa lisan.Karena itu dapatlah disimpulkan bahwa salah satu manfaat berbicara adalah agar kita dapat terampil dalam berkomunikasi secara lisan.
Empat keterampilan berbahasa baik lisan (menyimak dan berbicara) maupun tulis (membaca dan menulis) memiliki keterkaitan yang sangat erat. Satu keterampilan akan mendukung keterampilan yang lainnya. Hubungan antarragam bahasa (ragam lisan atau ragam tulis) lebih erat dibandingkan hubungan keterampilan antarsifat (reseptif atau produktif).Contohnya menyimak dengan berbicara lebih erat dibandingkan hubungan menyimak dan membaca atau menulis. Hubungan keterampilan pada ragam yang sama dapat disebut hubungan langsung, sedangkan hubungan keterampilan pada sifat yang berbeda hubungannya adalah tidak langsung.

Perhatikan tabel berikut ini.
Keterampilan Berbahasa
Sifat
Lisan
Tulis
Menyimak
Membaca
Reseptif
Berbicara
Menulis
Produktif
Saudara melalui tabel ini kita kaji hubungan antarketerampilan berbahasa.Kita lihat hubungan ini dari segi ragam. Pada ragam lisan, yaitu menyimak dan berbicara berada pada ruang yang sama. Dalam kegiatan berbahasa lisan secara tatap muka, penyimak dan pembicara dapat bertukar atau berganti peran.Penyimak bertukar peran menjadi pembicara dan sebaliknya, pembicara menjadi penyimak. Pergantian peran ini biasanya terjadi pada kegiatan tanya jawab, saling memberi masukan atau interaktif.
Pengetahuan yang diperoleh seseorang melalui menyimak dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuannya berbicara. Dengan kata lain, untuk dapat menjadi pembicara yang baik, orang harus memiliki keterampilan menyimak yang baik.
Sebagaimana menyimak dan berbicara, keterampilan membaca dan menulis juga dapat berganti peran. Ketika Anda menerima surat, Anda membacanya. Anda menjadi pembaca. Ketika Anda menulis surat balasan maka Anda menjadi penulis.
Pengetahuan seseorang yang diperoleh melalui membaca dapat digunakan untuk memperoleh atau meningkatkan keterampilan menulis. Dengan kata lain, untuk dapat menjadi penulis yang baik, orang harus memiliki keterampilan membaca yang baik.
Keterampilan berbahasa yang memiliki sifat sama pasti memiliki hubungan yang erat. Keterampilan menyimak dan membaca keduanya bersifat reseptif. Pengetahuan seseorang yang diperoleh melalui kegiatan menyimak akan menjadi skemata yang akan membantunya ketika memahami isi bacaan, demikian pula sebaliknya; pengetahuan yang diperoleh dari bacaan atau hasil membaca akan menjadi skemata yang akan membantu dalam memahami isi simakan. Artinya, kedua keterampilan berbahasa reseptif ini selalu saling mendukung.Dapat disimpulkan bahwa, seseorang yang terampil membaca juga terampil menyimak atau sebaliknya.
Antarketerampilan berbahasa produktif juga memiliki hubungan yang erat.Seorang penyaji seminar selain pintar berbicara ketika mempresentasikan makalahnya juga pandai menulis bahan seminar.
Empat keterampilan berbahasa yaitu menyimak, berbicara, membaca, menulis memiliki hubungan yang sangat erat meskipun masing – masing memiliki ciri tertentu. Karena ada hubungan yang sangat erat ini, pembelajaran dalam satu jenis keterampilan sering meningkatkan keterampilan yang lain.  Misalnya pembelajaran membaca, di samping meningkatkan keterampilan membaca dapat juga meningkatkan keterampilan menulis. Contoh lain belajar menemukan ide – ide pokok dalam menyimak juga meningkatkan kemampuan menemukan ide – ide pokok dalam membaca, karena kegiatan berpikir baik dalam memahami bahasa lisan maupun bahasa tertulis pada dasarnya sama
Dalam proses komunikasi, semua aspek keterampilan berbahasa, baik lisan maupun tertulis penting. Pengalaman merupakan dasar bagi semua makna yang disampaikan dan yang dipahami dalam bahasa tertentu. Anak yang memiliki pengalaman berbahasa yang cukup luas akan dapat mengungkapkan maksudnya dan memahami maksud orang lain dengan mudah.
Kemampuan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis semua bergantung pada kekayaan kosa kata yang diperlukan untuk berkomunikasi yang dimiliki oleh seseorang.Selain itu kemampuan berbahasa juga memerlukan kemampuan menggunakan kaidah bahasa.
1.      Hubungan antara Menyimak dan Berbicara
Menyimak dan berbicara merupakan keterampilan yang saling melengkapi, keduanya saling bergantung. Tidak ada yang perlu dikatakan jika tidak ada seorang pun yang mendengarkan, dan meskipun mungkin kita dapat menyimak nyanyian atau doa, komunikasi yang diucapkan merupakan hal utama yang perlu disimak. Menyimak dan berbicara, merupakan keterampilan berbahasa lisan.Keduanya membutuhkan penyandian dan penyandian kembali simbol – simbol lisan.
Pada dasarnya bahasa yang digunakan dalam percakapan dipelajari lewat menyimak dan menirukan pembicaraan.Anak – anak tidak hanya menirukan pembicaraan yang mereka pahami, tetapi juga mencoba menirukan hal – hal yang tidak mereka pahami.Kenyataan ini mengharuskan orang tua dan guru menjadi model berbahasa yang baik, supaya anak – anak tidak menirukan pembicaraan yang memalukan atau tidak benar (Ross dan Roe, 1990: 11).
2.      Hubungan antara Menyimak dan Membaca
Menyimak dan membaca merupakan keterampilan reseptif. Keduanya memungkinkan seseorang menerima informasi dari orang lain. Baik dalam menyimak maupun dalam membaca dibutuhkan penyandian simbol – simbol ; menyimak bersifat lisan sedangkan membaca bersifat tertulis.
Penyandian kembali simbol – simbol lisan (menyimak) hanya melibatkan satu tingkat pemindahan, yaitu dari bunyi ke pengalaman yang menjadi sumbernya. Misalnya ketika seorang anak menyimak kalimat “Nanti Ibu belikan bola”, anak mengubungkan dengan alat permainan yang digunakan untuk bermain sepak bola, sehingga dapat memahami arti kata bola yang disimaknya. Penyandian kembali simbol – simbol tertulis (membaca) melibatkan dua tingkat pemindahan, yaitu dari simbol tertulis ke simbol lisan, selanjutnya ke pengalaman yang menjadi sumbernya.Ketika membaca bola, anak mengucapkan atau mengucapkan dalam hati kata tersebut.Selain itu menghungkannya dengan benda yang digunakan untuk bermain sepak bola. Oleh karena itu keterampilan menyimak bagus untuk mengembangkan kesiapan membaca, karena menyimak memerlukan proses mental yang sama dengan membaca, kecuali pada tingkat penyandiannya.
Mengajar anak – anak menangkap ide – ide pokok, detail, urutan, hubungan sebab akibat, mengevaluasi secara kritis, dan menangkap elemen – elemen lain dari pesan – pesan secara lisan dapat mempengaruhi kemampuan anak – anak membaca guna menangkap elemen – elemen yang sama seperti ketika mereka menyimak. Penambahan sebuah kata dalam kosa kata yang disimak anak – anak meningkatkan kemungkinan mereka dapat menafsirkan arti kata tersebut jika mereka membacanya (Ross dan Roe, 1990: 12).Contoh, seorang anak yang dapat memahami kata “bermain” ketika menyimak cerita gurunya, juga dapat memahami ketika menjumpai kata tersebut dalam bacaan.
3.      Hubungan antara Berbicara dan Menulis
Berbicara dan menulis merupakan keterampilan ekspresif atau produktif.Keduanya digunakan untuk menyampaikan informasi.Dalam berbicara dan menulis dibutuhkan kemampuan menyandikan simbol – simbol, simbol lisan dalam berbicara dan simbol tertulis dalam menulis.
Baik dalam kegiatan berbicara maupun menulis pengorganisasian pikiran sangat penting. Pengorganisasian pikiran ini lebih mudah dalam menulis, karena informasi dapat disusun kembali secara mudah setelah ditulis sebelum disampaikan kepaa orang lain untuk dibaca.Sebaliknya setelah suatu pesan yang tidak teratur dikatakan kepada orang lain, meskipun telah dibetulkan oleh pembicara, kesan yang tidak baik sering kali masih tetap ada dalam diri pendengar. Itulah sebabnya banyak pembicara yang merencanakan apa yang akan dikatakan dalam bentuk tertulis dahulu sebelum disajikan secara lisan.
Namun, kegiatan berbicara dapat juga merupakan kegiatan untuk mencapai kesiapan menulis.Bahasa lisan dipelajari lebih dahulu oleh anak – anak dan pada umumnya mereka tidak mengutarakan secara tertulis hal – hal yang tidak mereka kuasai secara lisan.
4.      Hubungan antara Membaca dan Menulis
Membaca dan menulis merupakan keterampilan yang saling melengkapi.Tidak ada yang perlu ditulis kalau tidak ada yang membacanya, dan tidak ada yang dapat dibaca kalau belum ada yang ditulis.Keduanya merupakan keterampilan bahasa yang tertulis, dan menggunakan simbol – simbol yang dapat dilihat yang mewakili kata – kata yang diucapkan serta pengalaman dibalik kata – kata tersebut.Dalam menulis, orang lebih suka menggunakan kata – kata yang dikenal dan yang dirasakan sudah dipahami dengan baik dalam bahasa bacaan yang telah dibacanya.Namun, banyak materi yang telah dibaca dan dikuasai oleh seseorang yang tidak pernah muncul dalam tulisan (karangan).Hal itu terjadi karena untuk menggunakan suatu kata dalam tulisan diperlukan pengetahuan yang lebih mendalam dalam hal penerapan kata tersebut daripada sekedar memahami ketika membaca.

Senin, 15 Oktober 2012

MEMBUKA GUDANG HARTA KARUN

MEMBUKA GUDANG HARTA KARUN




Rosululloh S.A.W bersabda ” Utlubuu Ar-Rizqo fi Khobayal Ardi ” Artinya Carilah oleh kalian semua Rizqi dari pendamannya Bumi”. Para Ulama ahli tafsir menafsirkan hadis ini bahwa harta yangt ersembunyi di perut bumi adalah pertambangan seperti Minyak, Gas, Batu Bara, Emas dan lain sebagainya, Dan sebagian Ulama Khususnya Ulama Magribi ( Maroko dan sekitarnya ) Menafsirkan bahwa harta yang terpendam di perut bumi adalah Harta Qorun.
Harta Karun terdiri dari dua Jenis yang pertama Min Mubahil Ardi ( Dari harta yang Mubah di perut bumi ) Yang memang Alloh S.W.T telah menyediakannya untuk Manusia, yang kedua Min Malil Madfun minal Malid dakhoiril Mulukil Jahiliyyah ( Harta-harta pendaman dari hartanya para raja jaman Jahiliyyah ), Menurut keterangan Gus.r.ageng abdullah-kalibening, di dalam kitab Syumusul Anwar di jelaskan ” Apabila ada seseorang yang memendam Hartanya di dalam tanah sehingga sampai 40 tahun maka harta tersebut akan di kuasai oleh para golongan Jin ifrit sehingga harta tersebut tidak dapat di angkat oleh manusia kecuali dengan tata cara yang Khusus, Tapi apabila orang yang menyimpan hartanya di dalam tanah tersebut terlebih dahulu menaburi garam pada tanahnya, Walaupun harta tersebut terpendam selama 1000 tahun maka harta yang dia pendam tidak akan di kuasai oleh golongan Jin manapun Insya Alloh dalam kesempatan yang lain saya akan menjelaskan asal Usul serta Khasiat dan manfa’atnya GARAM.
Membuka dan mengangkat harta Karun tidaklah Mudah karena diperlukan kemampuan Ilmu, Riyadhoh yang berat serta pengalaman, karena Harta Karun tidak cukup hanya dibuka atau di angkat saja,karena walaupun harta tsb telah anda Dzohirkan / Angkat tetap saja para jin Ifrit yang menguasai harta tersebut akan selalu berusaha untuk menguasainya kembali dengan berbagai cara dalam hal ini seorang yang mengangkatnya di perlukan menguasai ilmunya serta pengalaman di dalam mengetahui tipu daya dari jin ifrit tsb, di bawah ini saya terbitkan Azimah Qowiyyah yang khusus untuk membuka dan mengangkat Harta dari gudang-gudang harta Karun Azimah Qowiyyah ini saya terjemahkan dari kitab Syumusul Anwar Juz I Hal 29 bab ke 7 didalam fasal Fi Fathil Kunuz ( membuka Gudang Harta Karun )





MEDIA PENARIKAN HARTA KARUN & BENDA GHOIB

1. Mencari Posisi / Letak Pusaka / harta terpendam. dg kekuatan batin / teropong.
2. Memastikan Harta / Pusaka jenis apa yang akan ditarik.
3. Memastikan siapa ghaib yang menjaga / menguasai pusaka tersebut.
4. Seberapa Kuat Ghaib yang menjaga pusaka tersebut.
5. Mengukur Kemampuan diri, Sudahkah kita siap dengan semua resiko yang akan kita hadapi.
Penarikan benda.2 ghoib seperti. Keris. Mustika merah. Rantai babi. Mustika batu ruba.
Mustika batu giok dinasti ming. Besi kuning dan Harta karun. Emas. Uang ghoib. Uang emas dan masih banyak harta karun yang terpendam.

Penarikan harta karun dilakukan berbagai macam cara, di antaranya ada yang menggunakan media seperti. BK. Betara karang. RB. Rantai babi. Mustika merah delima.
KM. Kantong macan. Keris singobarong. Media inilah yang sering di gunakan ritual dalam penarikan harta karun. Spiritual biasanya akan menggundang khodam penghuni benda tersebut, untuk dimintai bantuan mengambil pusaka, harta karun atau uang ghoib di suatu tempat dengan jarak ber-kilo.2 meter semua itu tergantung kekuatan khodam tersebut. Namun ada juga yang menggunakan media minyak.2 tertentu tanpa menggunakan media di atas,

Pada umumnya media tersebut di gunakan untuk penarikan serperti : Uang ghoib yang di sembunyikan bangsa jin dan juga di jaga oleh ghoib seperti BK dan JENGLOT atau khodam berilmu tinggi. Resiko dalam penarikan harta karun seperti emas lempengan jika di paksakan biasanya akan berujung pada kematian pelaku Spiritual itu sendiri atau keluarganya yang menjadi korban dendam alam ghoib atau pelaku Spiritual akan terpental sejauh berapa meter dan mengalami luka dalam akibat mengadu kekuatan ilmu atau energi dengan JIN yang berilmu tinggi.




UBO RAMPE :

Setiap pelaksanaan penarikan harta karun dibutuhkan UBO RAMPE sebagai syarat mengundang untuk bernegosiasi dengan penjaga pintu harta karun, Ubo rampe biasanya sulit di cari dan mahal harganya sehingga dibutuhkan orang.2 yang siap menjadi donatur untuk membeli Ubo rampe yang tergolong mahal, seperti : Minyak Poniba-salwa. Minyak apel jin. Candu putih. Sulaiman buhur. Minyak Jafaron jibril. Dan lain sebagainya, jika bersasil dalam penarikan harta karun Donatur akan menjadi “OKB orang Kaya Baru 7 Turunan”  yang harus di ketahui oleh Donatur. Sebelum menerima harta karun tersebut harus melunasi Ubo rampe Spiritual yang tersisa jika tidak barang tersebut akan hilang atau kembali lagi ke alam ghoib. Dari pihak Donatur harus menyediakan Uang pesangon yang sudah di bicarakan sebelumnya. Spiritual tidak bisa ikut menikmati Uang hasil dari harta karun tersebut. Jika di langgar dampaknya ke Spiritualnya sendiri.




P I R A N T I * S P I R I T U A L :

Setiap penarikan harta karun di butuhkan seorang ahli Spiritual di bidang ghoib yang sudah mempunyai pengalaman dan mengguasai ilmu terawangan dan ilmunya lebih tinggi dari bangsa jin yang menjaga harta karun dan tidak mudah resikonyapun juga tinggi. Mencari seorang Spiritual yang sudah berpengalaman di bidang hikma juga sulit, yang sering terjadi di kalangan umum adalah Dukun prewangan. Seorang dukunpun tidak akan mampu mengalahkan JIN penjaga pintu harta karun. Bisa.2 si dukun terpental.




KETERANGAN :
Bagaimana mungkin Harta Karun bisa didapatkan kalau harta itu asalnya GAIB dan hanya bisa dipakai oleh bangsa GAIB karena memang HAK dan MILIK bangsa GAIB,  ada juga yang bisa wujudkan bahkan bisa dipakai bangsa manusia, ada juga yang tidak bisa diwujudkan karena tetap GAIB.
Sedangkan uangnya manusia yang dijaga oleh bangsa jin BK atau JENGLOT biasanya uang hasil korupsi yang nilainya Milyaran bahkan Trilyunan Rupiah, ada juga yang berbentuk Dolar dan juga perhiasan, hanya si pemilik yang sudah terikat dengan perjanjian dengan BK atau JENGLOT yang mampu mengambil uangnya kembali. Klau menerut keterang dari ahli Spiritual yang sudah berpengalaman di bidang penarikan harta karun. Seperti Ustd. Anton - Ustd. Imam – Ki. Bayu – Gus.R.Ageng abdullah-kalibening

Uangnya manusia yang di tutup ghoib yang di lakukan oleh bangsa jin, bisa saja diambil dengan cara tertentu sehingga bisa menjadi wujud kembali, tetapi sebenarnya ada maksud tertentu bangsa jin menutup uangnya manusia, yaitu berusaha menggoyahkan Akidah, Tauhid dan keimanan manusia terhadap Allah swt, karena bangsa jin punya cara yang apabila manusia menghendaki menjadi kaya maka jin sanggup memberikan uang rupiah dolar atau emas dan perhiasan dengan syarat pertukaran.

SALAH SATU CARA YANG MUDAH
Tarik barang ghaib dengan datang kelokasi atau pakai media tanah / air yang ada barang pusakanya, datang kelokasi lebih mudah nariknya cuma resikonya lebih besar karena ghaib yang ada disekitar itu pasti akan terganggu dan marah dan narik pakai media tanah ( tidak dilokasi ) sangat berat pada waktu narik barang itu tetapi resikonya tidak terlalu berbahaya seperti dilokasi. Menurut keterangan dari Gus.R.Ageng abdullah-kalibening
Dalam menarik barang ghaib harus ada suatu pemimpin/ guru yang sudah bisa menguasai mengenai tarik menarik barang dan hal-hal ghaib, kalau tidak bisa-bisa nyawa jadi taruhannya, muntah darah, kulit terbakar kena tembakan jin penguasa barang itu dan amannya minimal setelah selesai badan terasa pegal-pegal / ngerentek.
Melakukan pagar badan masing-masing/ area untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
Melakukan ritual yaitu dengan membakar buhur dan bertawasul setelah selesai kemudian dimulai dengan menarikan.


                                                                        By. Ki. Sambar petir / Ustad. Nurcolis