Rabu, 30 Mei 2012

Evaluasi Pembelajaran : Nontes Sebagai Alat Penilaian Hasil dan Proses Belajar

Evaluasi Pembelajaran : Nontes Sebagai Alat Penilaian Hasil dan Proses  Belajar
Dalam proses pembelajaran kegiatan mengukur atau melakukan pengukuran merupakan kegiatan yang paling umum dilakukan dan merupakan tindakan yang mengawali kegiatan evaluasi dalam penilaian hasil belajar. Kegiatan mengukur itu pada umumnya tertuang dalam bentuk tes dengan berbagai variasinya. Dalam praktek, teknik tes inilah yang lebih sering dipergunakan dalam rangka mengevaluasi hasil belajar peserta didik.
Pernyataan di atas tidaklah harus diartikan bahwa teknik tes adalah satu-satunya teknik untuk melakukan evaluasi hasil belajar, sebab masih ada teknik yang lainnya yang dapat dipergunakan, yaitu teknik non tes. Dengan teknik non tes maka penilaian atau evaluasi hasil belajar peserta didik dilakukan dengan tanpa menguji peserta didik, melainkan dilakukan dengan pengamatan secara sistematis (observation), melakukan wawancara (interview), mennyebarkan angket (questionnaire), skala (skala penelitian, skala sikap, skala minat), studi kasus, dan sosiometri.
Kuesioner dan wawancara pada umumnya digunakan untuk menilai ranah kognitif seperti pendapat atau pandangan seseorang serta harapan dan aspirasinyadisamping aspek afektif dan perilaku individu. Skala dapat digunakan untuk menilai aspek afektif seperti skala sikap dan skala minat serta ranah kognitif seperti skala penilaian. Pengamatan biasanya dilakukan untuk memperoleh data mengenai perilaku individu atau proses kegiatan tertentu. Studi kasus digunakan untuk memperoleh data yang komprehensifmengenai kasus-kasus tertentu dari individu. Sosiometri pada umumnya digunakan untuk menilai aspek perilaku individu, terutama hubungan sosialnya. 
Penggunaan nontes untuk menilai hasil dan proses belajar masih sangat terbatas jika dibandingkan dengan penggunaan tes dalam menilai hasil belajar peserta didik. Para guru di sekolah pada umumnya lebih banyak menggunakan tes mengingat alatnya mudah dibuat, penggunaannya lebih praktis, yang dinilai terbatas pada aspek kognitif berdasarkan hasil-hasil yang diperoleh siswa setelah menyelesaikan pengalaman belajarnya. Maka dari itu untuk membahas dan memperjelas secara umum tentang alat penilaian nontes kami menyusun makalah yang berjudul “Nontes Sebagai Alat Penilaian Hasil Dan Proses Belajar Mengajar” ini.
B.     Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang permasalahan yang di tulis diatas maka kami dapat menyimpulkan rumusan masalah sebagai berikut :
1.      Seperti apakah alat-alat penilaian nontes itu?
2.      Apa saja kelebihan dan kekurangan penilaian nontes?
C.     Tujuan penulisan
Berdasarkan rumusan masalah diatas maka tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1.     Pembaca dapat mengetahui pengertian alat-alat penilaian nontes.
2.     Pembaca dapat mengetahui kelebihan dan kekurangan penilaian nontes.
D. Manfaat Penulisan
Adapun manfaat yang dapat penulis uraikan adalah : Membantu proses belajar mengajar dengan menggunakan Nontes sebagai penilaian hasil belajar.

A.     Pengamatan (observation)
Pengamatan atau observasi adalah cara menghimpun bahan-bahan keterangan yang dilakukan dengan mengadakan pengamatan dan pencatatansecara sistematis terhadap fenomenaa-fenomena yang sedang dijadikan sasaran pengamatan.
Pengamatan sebagai alat penilaian banyak digunakan untuk mengukur tingkah laku individu ataupun proses terjadinya suatu kegiatan yang dapat diamati, baik dalam situasi sebenarnya maupun dalam situasi buatan. Dengan kata lain pengamatan dapat mengukur atau menilai hasil dan proses belajar misalnya tingkah laku siswa pada saat belajar, tingkah laku guru pada waktu mengajar, kegiatan diskusi siswa, partisipasi siswa dalam simulasi, dan penggunaan alat peraga pada waktu  mengajar. Pengamatan ini dapat dilakukan pada waktu proses pembelajaran berlangsung. Pengamatan terlebih dahulu harus menetapkan aspek-aspek tingkah laku apa yang akan di amati, lalu dibuat pedoman agar memudahkan dalam pengisian observasi. Bentuk pengisian pedoman bisa secara bebas dalam bentuk uraian, bisa pula dengan bentuk member tanda cek (V) pada kolomjawaban observasi bila pedoman yang dibuat telah tersedia jawabannya (terstruktur).
Ada tiga jenis observasi, yakni observasi langsung, observasi dengan alat (tidak langsung), dan observasi partisipasi.

a. Observasi langsung
Pengamatan langsung adalah pengamatan yang dilakukan terhadap gejala atau proses yang terjadi dalam situasi yang sebenarnya dan langsung diamati oleh pengamat.
 b. Observasi dengan alat (tidak langsung)
Observasi ini dilaksanakan dengan menggunakan alat seperti miskroskop untuk mengamati bakteri, surya kanta untuk melihat pori-pori kulit.
c. Observasi partisipasi
Observasi ini berarti bahwa pengamatan harus melibatkan diri atau ikut serta dalam kegiatan yang dilakukan oleh individu atau kelompok yang diamati.

Kelemahan yang sering terjadidalam observasi ada pada pengamat itu sendiri, misalnya kurang cermat, kurang konsentrasi, lekas bosan sehingga hasil pengamatannya sering dipengaruhi oleh pendapatnya, bukan yang ditunjukkan oleh objek yang diamatinya.
Langkah-langkah yang ditempuh dalam membuat pedoman observasi lansung adalah sebagai berikut: 
  1. Lakukan terlebih dahulu observasi langsung terhadap suatu proses tingkah laku, misalnya penampilan guru di kelas.  
  2. Berdasarkan gambaran dari langkah (a) diatas, penilai menentukan segi-segi mana dari perilaku guru tersebut yang akan diamati sehubungan dengan keperluannya.  
  3. Tentukan bentuk pedoman tersebut, apakah bentuk bebas (tak perlu ada jawaban, tetapi mencatat apa yang tampak) atau pedoman yang berstruktur (memakai kemungkinan jawaban).  
  4. Sebelum observasi dilaksanakan, diskusikan dulu pedoman observasi yang telah dibuat dengan calon observan agar setiap segi yang diamati dapat dipahami maknanya dan bagaimana cara mengisinya.  
  5. Bila ada hal khusus yang menarik, tetapi tidak ada dalam pedoman observasi, sebaiknya disediakan catatan khusus atau komentar pengamat di bagian akhir pedoman observasi.
Berhasil tidaknya observasi sebagai alat penilaian bergantung pada pengamat, bukan pada pedoman observasi. Oleh sebab itu, memilih pengamat yang cakap, mampu, dan menguasai segi-segi yang diamati itu sangat diperlukan. Observasi untuk menilai proses pembelajaran dapat dilaksanakan oleh guru di kelas pada saat siswa melakukan kegiatan belajar. Untuk itu guru tidak perlu terlalu formal memperhatikan perilaku siswa, tetapi mencatat secara teratur gejala dan perilaku yang ditunjukkan oleh siswa.

Contoh pedoman observasi :

Pedoman observasi
Topik diskusi                          :
Kelas/semester                      :
Bidang studi                           :
Nama siswa yang diamati    :


Aspek yang diamati
Hasil pengamatan
keterangan
tinggi
sedang
rendah


Memberikan pendapat untuk pemecahan masalah

Memberikan tanggapan terhadap pendapat orang lain

Mengerjakan tugas yang diberikan

Motivasi siswa yang mengerjakan tugas-tugas

Toleransi dan mau menerima pendapat siswa lain

Tanggung jawab sebagai anggota kelompok












B.     Wawancara (interview)
Wawancara atau interview merupakan salah satu alat penilaian nontes yang digunakan untuk mendapatkan informasi tertentu tentang keadaan responden dengan jalan Tanya jawab sepihak. Atau dengan kata lain wawancara adalah cara menghimpun bahan-bahan keterangan yang dilaksanakan dengan melakukan Tanya jawab lisan secara sepihak, berhadapan muka, dan dengan arah serta tujuan yang telah ditentukan. Dikatakan sepihak karena pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dalam kegiatan wawancara itu hanya berasal dari pihak pewawancara saja, sementara responden hanya bertugas sebagai penjawab.
Ada dua jenis wawancara, yakni wawancara terpimpin dan wawancara bebas.
  1. Wawancara terpimpin biasa juga disebut wawancara terstruktur atau wawancara sistematis. Yang dimaksud wawancara terpimpni adalah suatu kegiatan wawancara yang pertanyaan-pertanyaan serta kemungkinan-kemungkinan jawabannya itu telah dipersiapkan pihak pewawancara, responden tinggal memilih jawaban yang sudah dipersiapkan pewawancara. 
  2. Wawancara bebas atau wawancara tak terpimpin, pada wawancara seperti ini responden diberi kebebasan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan pewawancara sesuai dengan pendapatnya tanpa terikat oleh ketentuan-ketentuan yang telah dibuat pewawancara.
Sebagai alat penilaian, wawancara dapat dapat digunakan untuk menilai hasil dan proses belajar. Ada tiga aspek yang harus diperhatikan dalam melaksanakan wawancara, yakni:
  • Tahap awal pelaksanaan wawancara bertujuan untuk mengondisikan situasi wawancara. Buatlah situasi yang mengungkapkan suasana keakraban sehingga siswa tidak merasa takut, dan ia terdorong untuk mengemukakan pendapatnya secara bebas dan benar atau jujur. 
  • Penggunaan pertanyaan, setelah kondisi awal cukup baik, barulah diajukan pertanyaan-pertanyaan sesuai dengan tujuan wawancara. Pertanyaan diajukan secara bertahap dan sistematis berdasarkan rambu-rambu atau kisi-kisi yang telah dibuat sebelumnya. 
  • Pencatatan hasil wawancara, hasil wawancara sebaiknya dicatat saat itu juga supaya tidak lupa.
Sebelum melaksanakan wawancara perlu dirancang pedoman wawancara. Pedoman ini disusun dengan menempuh langkah-langkah sebagai berikut:
  1. Tentukan tujuan yang ingin dicapai dari wawancara. 
  2. Berdasarkan tujuan diatas tentukan aspek-aspek yang akan diungkap dalam wawancara tersebut. 
  3. Tentukan bentuk pertanyaan yang akan digunakan, yang bentuk berstruktur ataukah bentuk terbuka. 
  4. Buatlah bentuk pertanyaan yang sesuai dengan analisis (c) diatas, yakni membuat pertanyaan yang yang berstruktur atau yang bebas. 
  5. Ada baiknya dibuat pula pedoman mengolah dan menafsirkan hasil wawancara, baik pedoman wawncara terpimpin atau untuk wawancara bebas.
Contoh pedoman wawancara bebas:
Tujuan                      : memperoleh informasi mengenai cara belajar yang dilakukan  oleh siswa di rumahnya.
Bentuk                       : wawancara bebas
Responden               : sisawa yang memperoleh hasil belajar cukup tinggi.
Nama siswa              :………………………………………………………………
Kelas\semester        : ………………………………………………………………
Jenis kelamin            : ………………………………………………………….
Pertanyaan guru
Jawaban siswa
Komentar dan kesimpulan hasil wawancara
Kapan dan berapa lama anda belajar di rumah?

Bagaimana cara anda mempersiapkan diri untuk belajar secara efektif?

Kegiatan apa yang anda lakukan pada waktu mempelajari bahan pelajaran?

Seandainya anda mengalami kesulitan dalam mempelajarinya, usaha apa yang anda lakukan untuk mengatasi kesulitan tersebut?

Dst.



C.     Angket (questionnaire)
Kelebihan kuesiner dari wawancara adalah sifatnya yang praktis, hemat waktu, tenaga, dan biaya. Kelemahannya adalah jawaban sering tidak objektif, lebih-lebih bila pertanyaannya kurang tajam dan memungkinkan siswa berpura-pura. Seperti halnya wawancara, kuesioner pun ada dua macam, yakni kuesioner berstruktur dan kuesioner terbuka. Kelebihan masing-masing kuesioner tersebut hampir sama dengan wawancara.
Alternatif jawaban yang ada dalam kuesioner bisa juga diinformasikan dalam bentuk simbol kuantitatif agar menghasilkan data interval. Caranya adalah dengan jalan memberi skor terhadap setiap jawaban berdasarkan criteria tertentu.
Petunjuk yang lebih teknis dalam membuat kuesioner adalah sebagai berikut :
  1. Mulai dengan pengantar yang isinya permohonan mengisi kuesioner sambil dijelaskan maksud dan tujuannya. 
  2. Jelaskan petunjuk atau cara mengisinya supaya tidak salah. 
  3. Mulai dengan pertanyaan untuk mengungkapkan identitas responden. 
  4. Isi pertanyaan sebaiknya dibuat beberapa katergori atau bagian sesuai dengan variabel yang diungkapkan sehingga mudah mengolahnya. 
  5. Rumusan pertanyaan dibuat singkat, tetapi jelas sehingga tidak membingungkan dan salah mengakibatkan penafsiran. 
  6. Hubungan antara pertanyaan yang satu dengan pertanyaan yang lain harus dijaga sehingga tampak logikanya dalam satu rangkaian yang sistematis. 
  7. Usahakan kemungkinan agar jawaban, kalimat, dan rumusannya tidak lebih panjang daripada pertanyaan. 
  8. Kuesioner yang terlalu banyak atau terlalu panjang akan melelahkan dan membosankan responden sehingga pengisiannya tidak objektif lagi. 
  9. Ada baiknya kuesioner diakhiri dengan tanda tangan sipengisi untuk menjamin keabsahan jawabannya.
Tujuan penggunaan kuesioner dalam kegiatan pengajaran adalah : 
  • Untuk memperoleh data mengenai latar belakang siswa sebagai bahan dalam menganalisis tinglah laku hasil dan proses belajarnya.  
  • Untuk memperoleh data mengenai hasil belajar yang dicapainya dan proses belajar yang ditempuhnya.
  •  Untuk memperoleh data sebagai bahan dalam menyusun kurikulum dan program pembelajaran.    
D. Skala (skala penilaian, skala sikap, skala minat)
Skala adalah alat untuk mengukur nilai, sikap, minat dan perhatian, yang disusun dalam bentuk pernyataan untuk dinilai oleh responden dan hasilnya dalam bentuk rentangan nilai sesuai dengan criteria yang ditentukan.

a. Skala penilaian
Skala penilaian mengukur penampilan atau perilaku orang lain oleh seseorang melalui pernyataan perilaku individu pada suatu kategori yang bermakna nilai. Titik atau ketagori diberi nilai rentangan mulai dari yang tertinggi sampai yang terendah. Rentangan nilai bisa dalam bentuk huruf (A, B, C, D), angka (4, 3, 2, 1), sedangkan rentangan kategori bisa tinggi, sedang, rendah, atau baik, sedang, kurang.
Hal yang penting diperhatikan dalam skala penilaian adalah criteria skala nilai, yakni penjelasan operasional untuk setiap alternatif jawaban (A, B, C, D). Adanya kriteria yang jelas untuk setiap alternative jawaban akan mempermudah pemberian penilaian dan terhindar dari subjektivitas penilai. 
Skala nilai diatas bisa juga menggunakan kategori baik, sedang, dan kurang atau dengan angka 4, 3, 2, 1 bergantung pada keinginan penilai. Skala penilaian dapat menghasilkan data interval dalam bentuk skor nilai melalui jumlah skor yang diperoleh dari instrument. Dalam skala kategori, penilai bisa membuat rentangan yang lebih rinci misalnya baik sekali, baik, sedang, kurang, dan kurang sekali.
Skala penilaian lebih tepat digunakan untuk mengukur suatu proses, misalnya proses mengajar pada guru, proses belajar pada siswa, atau hasil belajar dalam bentuk perilaku seperti keterampilan, hubungan sosial, dan cara memecahkan masalah.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penyusunan skala penilaian adalah sebagai berikut:
  1. Tentukan tujuan yang akan dicapai dari skala penilaian sehingga jelas apa yang harus dinilai. 
  2. Berdasaarkan tujuan tersebut, tentukan aspek atau variabel yang akan diungkap melalui instumen ini. 
  3. Tetapkan bentuk rentangan nilai yang akan digunakan. 
  4. Buatlah item-item pernyataan yang akan dinilai. 
  5. Ada baiknya menetapkan pedoman mengolah dan menafsirkan hasil yang diperolah dari penilaian.
Skala penilaian dalam pelaksanaannya dapat dilakukan oleh dua orang penilai atau lebih dalam menilai subjek yang sama.

b. Skala sikap
Skala sikap digunakan untuk mengukur sikap seseorang terhadap objek tertentu. Hasilnya berupa ktegori sikap yakni mendukung, menolak, dan netral. Sikap pada hakikatnya adalah kecenderungan berperilaku pada seseorang. Sikap juga dapat diartikan reaksi seseorang terhadap suatu stimulus kepada dirinya. Ada tiga komonen sikap yakni kognisi, afeksi, konasi. Kognisi berkenaan dengan pengetahuan seseorang tentang objek atau stimulus yang dihadapinya, afeksi berkenaan dengan persaan dalam menanggapi objek tersebut, sedangkan konasi berkenaan dengan kecenderungan berbuat terhadap objek tersebut. Oleh sebab itu, sikap selalu bermakna bila dihadapkan pada objek tertentu.
E. Studi kasus
Studi kasus pada dasarnya mempelajari secara intensif seorang individu yang dianggap mengalami kasus tertentu. Misalnya mempelajari khusus anak nakal, anak yang tidak bisa bergaul dengan orang lain, anak yang selalu gagal belajar, atau anak pandai, anak yang paling disukai teman-temannya. Kasus-kasus tersebut dipelajari secara mendalam dan dalam kurun waktu yang cukup lama. Tekanan utama dalam studi kasus adalah mengapa individu melakukan apa yang dilakukannya dan bagaimana tingkah lakunya dalam kondisi dan pengaruhnya terhadap lingkungan.
Kelebihan studi kasus dari studi lainnya adalah bahwa subjek dapat dipelajari secara mendalam dan menyeluruh. Namun, kelemahannya sesuai dengan sifat studi kasus bahwa informasi yang diperoleh sifatnya subjektif, artinya hanya untuk individu yang bersangkutan, dan belum tentu dapat digunakan untuk kasus yang sama pada individu yang lain. Dengan kata lain, generalisasi informasi sangant terbatas penggunaannya hasil studi kasus dapat menghasilkan hipotesis yang dapat diuji lebih lanjut. Studi kasus dalam pendidikan bisa dilakukan oleh guru, guru pembimbing, wali kelas, terutama untuk kasus-kasus siswa di sekolah.

Beberapa Petunjuk untuk melaksanakn studi kasus dalam bidang pendidikan, khususnya di sekolah:
  1. Menetapkan siapa-siapa diantara siswa yang mempunyai masalah khusus untuk dijadikan kasus. 
  2. Menetapkan jenis masalah yang dihadapi siswa dan perlu mendapatkan bantuan pemecahan oleh guru. 
  3. Mencari bukti-bukti lain untuk lebih meyakinkan kebenaran masalah yang dihadapi siswa tersebut. 
  4. Mencari sebab-sebab timbulnya masalah dari berbagai aspek yang berkenaan dengan kehidupan siswa tersebut. 
  5. Menganalisis sebab-sebab tersebut dan menghubungkannya dengan tinkah laku siswa tersebut. 
  6. Dengan informasi yang telah lengkap tentang faktor penyebab tersebut, guru dapat menentukan sejumlah alternatif pemecahannya. 
  7. Alternatif yang telah teruji sebagai upaya pemecahan masalah dibicarakan dengan siswa untuk secara bertahap diterapkan, baik oleh siswa itu sendiri maupun guru.
Beberapa kasus  yang sering terjadi pada siswa di sekolah antara lain adalah:
  1. Kegagalan belajar yang dapat dilihat dari prrestasi yang dicapainya, baik dalam mata pelajaran tertentu maupun untuk semua mata pelajarn yang diberikan di sekolah. 
  2. Ketidakmampuan siswa dalam menyesuaikan diri dengan kehidupan sekolah. 
  3. Gangguan emosional yang berlebihan seperti cepat marah, mudah tersinggung, mudah menangis. 
  4. Kenakalan yang sifanya menyimpang dari nilai sosial, moral, dan hukum. 
  5. Terlibat dalam tidakan kriminal seperti mencuri, perkosaan dan perkelahian.
Bentuk kasus-kasus di atas dan mungkin masih banyak lagi bersumber dari tiga faktor utama yakni faktor dari dalam dirinya, faktor keluarga dan faktor ligkungan. Efek siswa yang menalami kasus sangat merugikan baik bagi siswa yang bersangkutan maupun bagi ketertiban dan tegaknya disiplin sekolah disamping citra sekolah di masyarakat.
F. Sosiometri
Salah satu cara untuk mengetahui kemampuan siswa dalam menyesuaikan diri, terutama dengan teman sekelasnya, adalah dengan teknik sosiometri. Dengan teknik sosiometri ini dapat diketahui posisi seorang siswa dalam hubungan sosialnya dengan siswa lain. Sosiometri dapat dilakukan dengan cara menugaskan kepada semua siswa di kelas untuk memilih temannya yang paling dekat atau paling akrab. Usahakan dalam kesempatan memilih tersebut agar tidak ada siswa yang melakukan kompromi untuk saling memilih supaya pilihan tersebut bersifat netral, tidak diatur sebelumnya. Diagram hasil pilihan tersebut danamakan sosiogram. 
Contoh :
Berikut ini adalah contoh sosiogram. Nama-nama siswa diberi symbol huruf. Kepada dua puluh orang siswa dalam satu kelas diminta untuk memilih tiga orang teman yang paling disenangi atau paling akrab hubungannya secara berurutan. Caranya ialah dengan menuliskan tiga orang teman pada kertas kecil lalu digulung dan diserahkan kepada guru. Tekhnik sosiometri sebaiknya dilakukan ileh guru wali kelas atau oleh guru pembimbing dalam usahanya sesuai dengan tugas-tugas yang dipercayakan kepadanya.
Kesimpulan
Kuisioner dan wawancara pada umumnya digunakan untuk menilai ranah kognitif seperti pendapat atau pandangan seseorang serta harapan dan aspirasinya disamping aspek afektif dan perilaku individu. Skala dapat digunakan untuk menilai aspek afektif seperti skala sikap dan skala minat serta ranah kognitif seperti skala penilaian. Pengamatan biasanya dilakukan untuk memperoleh data mengenai perilaku individu atau proses kegiatan tertentu. Studi kasus digunakan untuk memperoleh data yang komprehensifmengenai kasus-kasus tertentu dari individu. Sosiometri pada umumnya digunakan untuk menilai aspek perilaku individu, terutama hubungan sosialnya.

KARYA ILMIAH BAHAYA MEROKOK BAGI KESEHAATAN

KARYA ILMIAH
BAHAYA MEROKOK BAGI KESEHAATAN






































OLEH :
faizal iqbal


Madrasah Aliyah Negeri Sumenep
Jl. KH. Agussalim No. 19
Tahun pelajaran 2011-2012

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Tuhan yang telah menolong hamba-Nya menyelesaikan makalah ini dengan penuh kemudahan. Tanpa pertolongan Dia mungkin penyusun tidak akan sanggup menyelesaikan dengan baik.
Karya ilmiah ini disusun agar pembaca dapat memperluas ilmu tentang, bahaya merokok, penyimpangan sek pada remaja, dan bahaya penyalahgunaan minuman keras dan narkoba. yang kami sajikan berdasarkan pengamatan dari berbagai sumber. Karya ilmiah ini di susun oleh penyusun dengan berbagai rintangan. Baik itu yang datang dari diri penyusun maupun yang datang dari luar. Namun dengan penuh kesabaran dan terutama pertolongan dari Tuhan akhirnya makalah ini dapat terselesaikan.
Karya ilmiah  ini memuat tentang “bahaya merokok” yang sangat berbahaya bagi kesehatan seseorang. Walaupun karya ilmiah ini mungkin kurang sempurna tapi juga memiliki detail yang cukup jelas bagi pembaca.
Penyusun juga mengucapkan terima kasih kepada ibu guru bahasa Indonesia, yang telah membimbing penyusun agar dapat mengerti tentang bagaimana cara kami menyusun karya tulis ilmiah.
Semoga karya ilmiah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada pembaca. Walaupun karya ilmiah ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Penyusun mohon untuk saran dan kritiknya. Terima kasih.







Probolinggo, 15 Desember 2009




Penyusun

DAFTAR ISI

Halaman Judul…………………………………………………………………1

KataPengantar………………………………………………………………2

Daftar isi………………………………………………………………………3

Bab I Pendahuluan…………………………………………………………… 4

I.       Latar Belakang Masalah………………………………………4

II.      Rumusan Masalah…………………………………………… 4

III.     Tujuan ………………………………………………………4

Bab II Pembahasan …………………………………………………………5

I.       Isi Bahaya merokok …………………………………………………5

Bab III Penutup ………………………………………………………………6

I.       Kesimpulan ……………………………………………………6

II.      Saran …………………………………………………6

DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………7


BAB I
PENDAHULUAN

I.          Latar Belakang Masalah
Masa remaja merupakan masa dimana seorang individu mengalami peralihan dari satu tahap ke tahap berikutnya dan mengalami perubahan baik emosi, tubuh, minat, pola perilaku, dan juga penuh dengan masalah-masalah (Hurlock, 1998). Oleh karenanya, remaja sangat rentan sekali mengalami masalah psikososial, yakni masalah psikis atau kejiwaan yang timbul sebagai akibat terjadinya perubahan sosial (TP-KJM, 2002). Masa remaja merupakan sebuah periode dalam kehidupan manusia yang batasannya usia maupun peranannya seringkali tidak terlalu jelas. Pubertas yang dahulu dianggap sebagai tanda awal keremajaan ternyata tidak lagi valid sebagai patokan atau batasan untuk pengkategorian remaja sebab usia pubertas yang dahulu terjadi pada akhir usia belasan (15-18) kini terjadi pada awal belasan bahkan sebelum usia 11 tahun. Seorang anak berusia 10 tahun mungkin saja sudah (atau sedang) mengalami pubertas namun tidak berarti ia sudah bias dikatakan sebagai remaja dan sudah siap menghadapi dunia orang dewasa. Ia belum siap menghadapi dunia nyata orang dewasa, meski di saat yang sama ia juga bukan anak-anak lagi.
Berbeda dengan balita yang perkembangannya dengan jelas dapat diukur, remaja hampir tidak memiliki pola perkembangan yang pasti. Dalam perkembangannya seringkali mereka menjadi bingung karena kadang-kadang diperlakukan sebagai anak-anak tetapi di lain waktu mereka dituntut untuk bersikap mandiri dan dewasa. Memang banyak perubahan pada diri seseorang sebagai tanda keremajaan, namun seringkali perubahan itu hanya merupakan suatu tanda-tanda fisik dan bukan sebagai pengesahan akan
keremajaan seseorang. Namun satu hal yang pasti, konflik yang dihadapi oleh remaja semakin kompleks seiring dengan perubahan pada berbagai dimensi kehidupan dalam diri mereka. Untuk dapat memahami remaja, maka perlu dilihat berdasarkan perubahan pada dimensi dimensi tersebut.


II.        Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah adalah sebagai berikut :
Untuk menggambarkan bahaya merokok, penyimpangan sek pada remaja, dan
bahaya penyalahgunaan minuman keras dan narkoba.


III.       TUJUAN
Supaya pembaca lebih mengerti tentang bahaya merokok, penyimpangan sek
pada remaja, dan bahaya penyalahgunaan minuman keras dan narkoba.
Supaya pembaca menyadari bahwa merokok, penyimpangan sek pada remaja,
dan bahaya penyalahgunaan minuman keras dan narkoba dapat merusak tubuh manusia.

BAB II
PEMBAHASAN
REMAJA DAN ROKOK

Di masa modern ini, merokok merupakan suatu pemandangan yang sangat tidak asing. Kebiasaan merokok dianggap dapat memberikan kenikmatan bagi si perokok, namun dilain pihak dapat menimbulkan dampak buruk bagi si perokok sendiri maupun orang – orang disekitarnya. Berbagai kandungan zat yang terdapat di dalam rokok memberikan dampak negatif bagi tubuh penghisapnya. Beberapa motivasi yang melatarbelakangi seseorang merokok adalah untuk mendapat pengakuan (anticipatory beliefs), untuk menghilangkan kekecewaan ( reliefing beliefs), dan menganggap perbuatannya tersebut tidak melanggar norma ( permissive beliefs/ fasilitative) (Joewana, 2004). Hal ini sejalan dengan kegiatan merokok yang dilakukan oleh remaja yang biasanya dilakukan didepan orang lain, terutama dilakukan di depan kelompoknya karena mereka sangat tertarik kepada
kelompok sebayanyaatau dengan kata lain terikat dengan kelompoknya.
Penyebab Remaja Merokok antara lain:
1. Pengaruh 0rangtua
Salah satu temuan tentang remaja perokok adalah bahwa anak-anak muda yang berasal dari rumah tangga yang tidak bahagia, dimana orang tua tidak begitu memperhatikan anak-anaknya dan memberikan hukuman fisik yang keras lebih mudah untuk menjadi perokok dibanding anak-anak muda yang berasal dari lingkungan rumah tangga yang bahagia (Baer & Corado dalam Atkinson, Pengantar psikologi, 1999:294).
2. Pengaruh teman.
Berbagai fakta mengungkapkan bahwa semakin banyak remaja merokok maka semakin besar kemungkinan teman-temannya adalah perokok juga dan demikian sebaliknya. Dari fakta tersebut ada dua kemungkinan yang terjadi, pertama remaja tadi terpengaruh oleh teman-temannya atau bahkan temanteman remaja tersebut dipengaruhi oleh diri remaja tersebut yang akhirnya mereka semua menjadi perokok. Diantara remaja perokok terdapat 87% mempunyai sekurang- kurangnya satu atau lebih sahabat yang perokok begitu pula dengan remaja non perokok (Al Bachri,1991)
3. Faktor Kepribadian.
Orang mencoba untuk merokok karena alasan ingin tahu atau ingin melepaskan diri dari rasa sakit fisik atau jiwa, membebaskan diri dari kebosanan. Namun satu sifat kepribadian yang bersifat prediktif pada pengguna obat-obatan (termasuk rokok) ialah konformitas sosial. Orang yang memiliki skor tinggi pada berbagai tes konformitas sosial lebih mudah menjadi penggunadibandingkan dengan mereka yang memiliki skor yang rendah (Atkinson, 1999).
4. Pengaruh Iklan.
             Melihat iklan di media massa dan elektronik yang menampilkan gambaran bahwa perokok adalah lambang kejantanan atau glamour, membuat remaja seringkali terpicu untuk mengikuti perilaku seperti yang ada dalam iklan tersebut. (Mari Juniarti, Buletin RSKO, tahun IX,1991).

Merokok pada umumnya sangat berbahaya pada diri kita maupun diri orang lain disekitar kita. Dalam rokok banyak mengandung Nikotin yang dapat merusak organ tubuh manusia, daintaranya yaitu Kanker, serangan jantung, impotensi, dan gangguan kehamilan dan janin.

BAB III
PENUTUP
I.          Kesimpulan
Pencegahan harus lebih diutamakan dari pada pengobatan. Jangan sekali kali mencoba untuk merokok karena hamper dari semua yang terjerumus berawal
dari coba coba. Pikirkan bentuk pergaulan. Pencegahan lebih baik dari pada pengobatan




II.        Saran
Menekan pada pencegahan maka perlu dipikirkan upaya upaya yang lebih sungguh sungguh dan terpadu : di sekolah, di rumah dan melibatkan pihak pihak lain.

DAFTAR PUSTAKA



Atkinson (1999). Pengantar Psikologi. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Direktorat Kesehatan Jiwa Masyarakat (2001). Buku Pedoman Umum Tim
Pembina, Tim Pengarah & Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa. Direproduksi oleh
Proyek Peningkatan Kesehatan Khusus APBD 2002.
Hurlock, E.B (1998). Perkembangan Anak. Alih bahasa oleh Soedjarmo &
Istiwidayanti. Jakarta: Erlangga.
Kozier, B (1991). Fundamental of Nursing : Concept, Process, and Practice.
Fourth Edition. California : Addison-Wesley Publishing Company.
Mappiare, A. (1992). Psikologi Remaja. Surabaya: Usaha Nasional.
Stuart & Sundeen (1998). Principle and Practice of Psychiatric Nursing. 6 th. Ed.
Philadelphia: The C V Mosby.
Azwar, S. 2002. Sikap Manusia, Teori Dan Pengukurannya. Yogyakarta. Pustaka
Pelajar Offset


Polisi Larang Suporter Persib ke Jakarta


Polisi Larang Suporter Persib ke Jakarta


Laga klasik Indonesia Super League (ISL) antara Persija Jakarta melawan Persib Bandung hari Minggu, 27 Mei 2012, besok sudah pasti akan berlangsung panas. Menghadapi laga penuh emosi tersebut, polisi sudah siap mengerahkan keamanan berlapis.

Pertandingan yang bakal digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) besok kemungkinan besar akan dipadati oleh ribuan Jakmania, pendukung fanatik Persija. Untuk mengantisipasi kemungkinan bentrok atau keributan yang bisa terjadi, ribuan personel polisi siap ditempatkan di beberapa wilayah sekitar Senayan dan SUGBK sejak pagi hari.

"Kami sudah siapkan sekitar 1.730 personel untuk turun ke lapangan besok. Mereka gabungan dari jajaran Polres dan Polsek di Jakarta dan akan ditempatkan di beberapa ring sekitar Senayan," ujar Kepala Biro Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Agung Budi Marwoto, saat dihubungi Sabtu, 26 Mei 2012.

Selain itu, untuk mengantisipasi bentrokan antara suporter, pihak kepolisian mengeluarkan larangan hadir bagi seluruh suporter Persib yang ingin menonton langsung di Jakarta. Gesekan antara kedua kelompok suporter memang kerap terjadi, karena itu polisi tidak ingin mengambil resiko.

"Pendukung Persib juga tidak akan masuk stadion. Kami berharap semua bisa berjalan tertib agar pertandingan juga bisa berjalan lancar, jadi besok kita tinggal tunggu bagaimana pelaksanaannya," lanjut Agung.

Pada laga big-match nanti, Persija dan Persib sama-sama akan mengincar poin penuh demi mendongkrak posisi mereka di klasemen ISL.

Tuan rumah saat ini punya kesempatan untuk memantapkan diri di peringkat tiga klasemen dan menjauh dari kejaran Persela Lamongan dan Persiwa Wamena. Persija saat ini bertengger di peringkat tiga dengan 44 poin dasil 26 kali main.

Sedangkan tiga poin di Jakarta bisa membuat Persib meneruskan tren positif dengan menjalani empat laga tanpa kekalahan. Saat ini 'Maung Bandung' berada diperingkat tujuh dengan 35 poin dari 25 laga.

Madrid-Barca Tanpa Mou-Vilanova di Supercopa de Espana


Madrid-Barca Tanpa Mou-Vilanova di Supercopa de Espana



Madrid-Barca Tanpa Mou-Vilanova di Supercopa de Espana

Sebuah panggung kembali tersaji untuk dua seteru abadi Spanyol, yaitu Supercopa de Espana, tapi keduanya takkan didampingi oleh pelatihnya masing-masing di ajang pembuka musim baru tersebut.

Real Madrid sang juara La Liga 2011/12 akan menghadapi Barcelona sang jawara Copa del Rey 2011/12 di ajang Supercopa de Espana 2012.

Sayangnya, Madrid takkan didampingi pelatih Jose Mourinho dan Barca minus Tito Vilanova dalam laga resmi pembuka musim baru di Spanyol tersebut. Padahal, itu seharusnya menjadi laga resmi perdana Vilanova sebagai pelatih anyar Barca.

Mourinho dikenai hukuman larangan mendampingi timnya dalam dua pertandingan Supercopa de Espana dan Vilanova 'kebagian' satu laga akibat insiden 'colok mata' yang melibatkan kedua orang itu di edisi sebelumnya. Saat itu, Mourinho mencolok mata Vilanova, dan Vilanova, yang masih berstatus asisten Guardiola, bereaksi dengan menampar Mourinho.

Tanggal duel untuk kejuaraan ini belum ditetapkan. Tapi, satu yang pasti adalah urutan tim yang menjadi tuan rumah. Jika musim lalu leg pertama digelar di Santiago Bernabeu, maka kali ini Camp Nou yang mendapatkan giliran pertama.

Sepanjang sejarah Supercopa de Espana, sudah tersaji lima bentrokan Madrid-Barca. Edisi terbaru ini akan menjadi El Clasico yang keenam

Guardiola: Saya Pun Banyak Belajar dari Messi


Guardiola: Saya Pun Banyak Belajar dari Messi


Guardiola: Saya Pun Banyak Belajar dari Messi

Pelatih Barcelona, Pep Guardiola mengaku banyak belajar dari Lionel Messi sebagai pemain terbaik yang pernah disaksikannya - bahkan mungkin pemain terhebat yang bakal dia saksikan.

La Pulga - julukan pemain asal Argentina itu mencetak golnya yang ke-73 musim ini dalam kemenangan 3-0 atas Athletic Bilbao di final Copa del Rey dini hari tadi WIB, kemenangan yang memastikan Guardiola mengakhiri masa pengabdiannya dengan manis.

Pelatih berusia 41 tahun itu sudah memimpin Azulgrana meraup 14 gelar dalam 4 musim namun ia dengan rendah hati mengaku belajar dari Messi di masa itu dan bukan sebaliknya.

"Merupakan kehormatan bisa menjadi pelatih dari pemain terbaik yang pernah saya saksikan, bahkan mungkin pemain terbaik yang bakal saya saksikan," ucapnya pada para pewarta seusai pertandingan.

"Messi mengajarkan pada saya untuk lebih kompetitif. Kami mungkin akan tetap memenangi trofi tanpa dia, namun bukan 14 dari 19 trofi."

Perjalanan Barca musim ini banyak dianggap orang sebagai kegagalan mengingat mereka gagal mempertahankan gelar di La Liga dan Liga Champions, namun Guardiola merasa jika mereka malah berkembang musim ini, sembari merendah bahwa Barca jadi tim terbaik dunia bukan karena dirinya.

"Dari sisi sepak bola, ini adalah musim terbaik. Kami memperkenalkan konsep baru, dan musim depan, kami akan lebih baik lagi," sambungnya.

"Saya tak menemukan apapun (untuk tim ini). Saya hanya bagian dari proses yang dimulai sebelum saya dan akan berlanjut setelah saya. Tim terbaik dalam sejarah? Akan sangat megah untuk menyebut kami seperti itu, itu adalah kata-kata yang besar.

Senin, 28 Mei 2012

Jenis-jenis batuan


Jenis-jenis batuan

Untuk materi ini mempunyai 1 Kompetensi Dasar yaitu:

Kompetensi Dasar :

  1. Mendeskripsikan keragaman bentuk muka bumi, proses pembentukan, dan dampaknya terhadap kehidupan.


Daftar isi

[sembunyikan]

Jenis Batuan

[ Oleh Karismanto Rahmadika, murid SMP Negeri 14 Bandung ]

Lapisan litosfer (lapisan kerak bumi) terdiri dari berbagai jenis batuan yang semua terbuat dari pembekuan magma. Karena adanya proses endogen dan eksogen batuan terbagi jadi tiga jenis, sebagai berikut.

Batu beku

Batuan beku terbentuk karena pembekuan magma.

  1. Batuan yang beku di dalam bumi disebut batuan intrusiva (batuan beku dalam)
  2. Batuan yang beku di permukaan bumi disebut batuan ekstrusiva (batuan beku luar)


Contoh batu beku
Granit
Granit

Obsidian
Obsidian

Obsidian tembus pandang
Obsidian tembus pandang

Diorite
Diorite

Granit
Obsedian abu-abu
Obsedian
Diorite


Batu Sediman


Batuan sedimen/endapan terbentuk oleh batuan beku yang tererosi (terkikis), kemudian mengalami proses pengangkutan lalu diendapkan di tempat lain
Batuan sedimen dibedakan oleh jenis zat pengangkutnya, yaitu :

  1. Batu sediman aeolis : batuan hasil proses pengangkutan oleh angin
  2. Batu sediman aluvial : batuan hasil proses pengangkutan dan pembentukan oleh air yang mengalir. Contoh : delta di muara sungai
  3. Batu sediman marin : batuan hasil proses pengangkutan dan dibentuk oleh air laut. Contoh : sand-dune di pantai
  4. Batu sediman glasial : batuan hasil proses pengangkutan dan pembentukan oleh gletser atau es yang mengalir



Contoh batuan sedimen
Konglomerat
Konglomerat

Gipsum
Gipsum

Kristal Garam
Kristal Garam

Batu Pasir
Batu Pasir

Konglomerat
Gipsum
Kristal Garam
Batu Pasir


Batuan Melihan

Batuan melihan (batu metamorf), terbentuk dari batu yang mengalami proses perubahan suhu dan tekanan dalam waktu yang lama,
misalnya batu kapur (gamping) berubah menjadi batu marmer (pualam). Batu melihan bisa dibedakan dari strukturnya menjadi:

  1. Berlapis (foliated)
  2. Tak berlapis (non foliated)


Contoh batuan melihan
Phyllite
Phyllite

Marmer
Marmer

Batu melihan foliated: phylite
Batu melihan non foliated: marmer




Pustaka

  • Isi halaman ini diringkas dari buku Ilmu Pengetahuan Sosial untuk Kelas VII Jilid 1, Terbitan Grafindo Media Pratama, 2006
  • Gambar-gambar diambil dari GLENDALE COMMUNITY COLLEGE, EARTH SCIENCE IMAGE ARCHIVE







Beri Penilaian
  • Currently 4.30/5
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5
Rating : 4.3/5 (592 votes cast)