Jumat, 22 Juni 2012

MAKALAH METODE PEMBELAJARAN DI STKIP PGRI SUMENEP

MAKALAH
METODE PEMBELAJARAN DI STKIP PGRI SUMENEP
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah “Bahasa Indonesia”
Dosen pembimbing : Ibu Hermin,spd



Di susun oleh :

Siti Mutrmainnah (1135511229)






FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
 PROGRAM STUDIBAHASA INGGRIS STKIP PGRI SUMENEP 2012 -2013

KATA PENGANTAR
Assalamualaikum wr. wb.
Untaian kalimat tahaffudz, alhamdulilah, hanya bagi Allah S.W.T yang maha pengasih dan penyayang. Sholawat beserta salam semoga semoga tetap tercurah limpahkan ke junjungan Nabi besar kita, yakni Nabi Muhammad SAW. Para sahabat serta para pengikutnya yang setia.
Ucapan syukur keadirat Allah Azza wajalla atas keselesaiannya makalah ini, yang bertujuan untuk memenuhi tugas makalah “Bahasa Indonesia”    .
Disamping itu makalah ini juga berfungsi sebagai buku pegangan atau pedoman bagi mahasiswa agar nantinya bisa memperoleh apa yang diinginkan dalam makalah ini, khususnya dalam pengetahuan Bahasa Indonesia.  Artinya, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua, Amin.
                Wassalamualaikum wr. wb.




                                                                                               



 Sumenep, 15 juni 2012












DAFTAR ISI
Halaman sampul ……………………………………………………………………      i
Kata pengantar ……………………………………………………………………..      ii
Daftar isi …………………………………………………………………………….      iii

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang   ………………………………………………………………...      1
1.2 Rumusan Masalah  ………………………………………………………..……      1
1.3 Tujuan Pembahasan   …………………………………………………………..      1
1.4 Manfaat Penulisan  ……………………………………………………………..      2

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Proses mengajar dosen di STKIP PGRI Sumenep     …………………………      3
2.1.1 Metode Ceramah (Preaching Method)    .........................................................      4
2.1.2 Based learning. ………………………………………………………………...      5
A.    CIRI- CIRI METODE BASED LEARNING      …………………     7
B.     TUJUAN METODE BASED LEARNING    …………………….     8
2.1.3 Based instruction  ……………………………………………………….      9
BAB III PENUTUP
3.1 Simpulan     ...................................................................................................      13
3.2 Saran     .........................................................................................................      13
DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………………..      14

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sebagian orang menganggap bahwa belajar merupakan kegiatan yang tidak menarik dan membosankan. Padahal belajar akan membuka jendelapemahaman manusia terhadap hakikat segala sesuatu. Dengan belajar, manusia akan dapat memahami hakikat diri, lingkungannya, dan hakikat penciptaan diri dan lingkungan.
Menurut VAN BEMMELEN “Metode belajar efektif di perguruan tinggi pada dasarnya merupakan upaya untuk mencapai prestasi akademik yang optimal di perguruan tinggi.Prestasi akademik ini, setelah diterapkannya Sistem Kredit Semester (SKS)di perguruan tinggi, dinyatakan dengan Indeks Prestasi, atau yang lazim dikenal dengan istilah "IP". Secara empiris mencapai IP yang optimal bukanlah pekerjaan yang mudah karena apabila sampai keliru dalam menentukan strategi maka bukan saja IP-nya menjadi rendah, akan tetapi waktu belajarpun menjadi "molor"; bahkan tidak jarang mahasiswa terpaksa dikenai "Drop Out" (DO) karenanya”.
Perlu dicatat: DO merupakan peristiwa terburuk bagi seorang mahasiswa, karena dengan demikian lepaslah seluruh status dan predikat kemahasiswaannya.
1.2 Rumusan Masalah
Masalah yang dapat penulis rumuskan adalah sebagai berikut:
1.      Bagaimana proses mengajar Dosen di  STKIP PGRI Sumenep ?
2.      Metode seperti apa yang harus digunakan di STKIP PGRI Sumenep ?
1.3 Tujuan Pembahasan
Berdasarkan rumusan masalah, maka penulis dapat menyimpulkan beberapa tujuan yang hendak dicapai. Tujuan tersebut adalah sebagai berikut:
1.      Untuk mengetahui proses mengajar Dosen di STKIP PGRI Sumenep
2.      Untuk mengetahui metode apa yang harus digunakan di STKIP PGRI Sumenep

1.4 Manfaat Penulisan
kita sebagai calon pendidik akan mampu mengimplementasikan hasil dari makalah sebagai bahan pembelajaran. Kita tidak hanya mampu memberikan teori, tetapi penerapan langsung terhadap anak didik. Hasil dari analisis ini juga bisa dimanfaatkan sebagai bahan untuk tugas penelitian.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Proses mengajar dosen di STKIP PGRI Sumenep
Guru/Dosen merupakan ujung tombak yang berhubungan langsung dengan siswa sebagai subjek dan objek belajar. Bagaimanapun bagus dan idealnya kurikulum pendidikan, bagaimanapun lengkapnya sarana dan prasarana pendidikan, tanpa diimbangi dengan kemampuan guru dalam mengimplementasikannya, maka semuanya akan kurang bermakna. Oleh sebab itu, untuk mencapai standar proses pendidikan, sebaiknya dimulai dengan menganalisis komponen guru, salah satunya dengan peningkatan profesional guru serta mengoptimalkan peran guru dalam proses pembelajaran. Pembelajaran bukan hanya sekedar menyampaikan materi pelajaran, akan tetapi suatu proses mengubah perilaku mahasiswa/siswa sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Oleh sebab itu, dalam proses mengajar terdapat kegiatan membimbing peserta didik agar berkembang sesuai dengan tugas-tugas perkembangannya, melatih keterampilan intelektual maupun keterampilan motorik sehingga siswa/mahasiswa dapat dan berani hidup di masyarakat yang cepat berubah dan penuh persaingan, memotivasi mahasisiswa/siswa agar mereka dapat memecahkan berbagai persoalan hidup dalam masyarakat yang penuh tantangan dan rintangan, membentuk siswa yang memiliki kemampuan inovatif dan kreatif, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, seorang guru perlu memiliki kemampuan merancang dan mengimplementasikan berbagai strategi pembelajaran yang dianggap cocok dengan minat dan bakat serta sesuai dengan taraf perkembangan mahasiswa/siswa termasuk di dalamnya memanfaatkan berbagai sumber dan media pembelajaran untuk menjamin efektivitas pembelajaran.
Dalam STKIP PGRI Sumenep tidaklah jarang para Dosen menggunakan metode pembelajaran yang tidak sesuai dengan kurikulum saat ini. Contohnya : Dosen menggunakan Metode Ceramah (Preaching Method). Dalam metode ini seluruh aktivitas hanya dititik beratkan kepada Dosen, sehingga mahasiswa hanya menjadi pendengar setia atau dengan kata lain PASIF.  Untuk lebih jelasnya marilah kita lihat pengertian dari metode ceramah tersebut.




2.1.1 Metode Ceramah (Preaching Method)
Muhibbin Syah, (2000). Mengatakan ”Metode ceramah yaitu sebuah metode mengajar dengan menyampaikan informasi dan pengetahuan sacara lisan kepada sejumlah mahasiswa/siswa yang pada umumnya mengikuti secara pasif”.

 Beberapa kelemahan metode ceramah adalah : 
a.       Membuat mahasiswa pasif 
b.      Mengandung unsur paksaan kepada mahasiswa 
c.       Mengandung daya kritis mahasiswa ( Daradjat, 1985) 
d.      Mahasiswa  yang lebih tanggap dari visi visual akan menjadi rugi dan mahasiswa yang lebih tanggap auditifnya dapat lebih besar menerimanya. 
e.       Sukar mengontrol sejauh mana pemerolehan belajar mahasiswa. 
f.       Kegiatan pengajaran menjadi verbalisme (pengertian kata-kata). 
g.      Bila terlalu lama membosankan.(Syaiful Bahri Djamarah, 2000). 
Untuk mengatasi permasalahan tersebut, disarankan untuk menggukan metode pembelajaran yang lain seperti (problem based learning,PBL atau problem based instruction,PBI). Dalam metode pembelajaran ini segala kegiatan proses belajar mengajar dititik beratkan kepada peserta didik, dan Dosen/Guru hanya menjadi fasilitator saja.
Salah satu upaya yang dilakukan untuk  mengatasi masalah ini, padatahun 1997, The Cognition and Technology Group at Vanderbilt  mengembangkan sebuah program tentang pembelajaran berbasis masalah ( problem based learning,PBL atau problem based instruction,PBI) yang dinamai The Jasper Project. Program ini menyediakan beberapa kaset cakram padat  (videodisc). Ternyata program ini dapat membantu siswa untuk menghubungkannya dengan konsep-konsep pelajaran lain. Proyek ini difokuskan pada dua buah petualangan yang membutuhkan penyelesaian masalah. Petualangan pertama berjudul Blueprint of  Success dan petualangan kedua berjudul The Big Splash. Di akhir penelitian ini ditemukan sebuah fakta bahwa siswa yang mengikuti program ini mempunyai tingkat motivasi dan kinerja akademik yang lebih baik daripada yang tidak mengikuti program ini.[1]




2.1.2 Based learning.
Based learning adalah strategi pengajaran di mana satu kelas dibagi beberapa kelompok, kemudian diberi masalah dan siswa bersama-sama memecahkan masalah tersebut. Satu kelas dibagi beberapa kelompok yang mesing-masing kelompok terdiri dari 3-6 orang untuk mendiskusikan suatu topik atau memecahkan suatu masalah, bisa dilakukan di dalam kelas atau di luar kelas. Dalam satu kelompok ini, mereka mempunyai tugas diantaranya:
·         Membantu memecahkan masalah yang dihadapi
·         Menampilkan saran-saran untuk mendiskusikan atau memecahkan masalah
·         Mendengarkan baik-baik dan menghargai sumbangan pikiran anggota-anggota lainnya Mengembangkan pendapat atas dasar pendapat anggota lainnya
·         Memecahkan masalah merupakan metode belajar yang mengharuskan pelajar untuk menemukan jawabannya.
Metode ini dapat didasarkan pada penelitian, pengajaran proyek, pengajaran unit yang terintegrasi, pendekatan interdisipliner, pelajaran individual dan pengajaran yang aktif. Yang penting ialah, bahwa setiap metode yang digunakan mempunyai tujuan untuk mendidik anak agar sanggup memecahakn masalah. Langkah-langkah yang diikuti dalam pemecahan masalah, pada umumnya seperti yang dikemukakan oleh John Dewey, yaitu:
·         Pelajar dihadapkan pada masalah
·         Pelajar merumusakan masalah itu
·         Pelajar merumuskan hipotesis
·         Pelajar menguji hipotesis tersebut
Pada umumnya, yang hadir di ruang kelas adalah terjadinya pembelajaran tradisional yang di mana proses pembelajaran yang terjadi bersifat memusatkan pada guru,dengan menjadikan siswa sebagai objek pembelajaran dengan aktivitas utamanya untuk menghafal materi pelajaran, mengerjakan tugas dari guru, menerima hukuman jika melakukan kesalahan, dan kurang mendapatkan penghargaan terhadap hasil kerjanya. Situasi pembelajaran seperti ini jika terus dipertahankan akan membawa dampak yang buruk bagi siswa, di mana kondisi ini akan memunculkan sikap kegagalan dan mempertahankan diri. Siswa akan merasa apa yang mereka kerjakan bukan merupakan apa yang mereka inginkan. Jika terjadi sesuatu di luar keinginan siswa, maka dia akan berusaha untuk berbohong atau menutupi apa yang mereka rasakan dan alami dalam kegiatan pembelajaran. Mengapa menggunakan based learning? Karena Based learning menawarkan sebuah konsep untuk menciptakan pembelajaran dengan berorientasi pada upaya pemberdayaan potensi otak siswa. Tiga strategi utama yang dapat dikembangkan dalam based learning adalah:
1.      Menciptakan lingkungan belajar yang menantang kemampuan berpikir siswa.Dalam setiap kegiatan pembelajaran, sering-seringlah guru memberikan soal-soal materi pelajaran yang memfasilitasi kemampuan berpikir siswa dari mulai tahap pengetahuan sampai tahap evaluasi. Soal-soal pelajaran dikemas semenarik mungkin, misalnya melalui teka-teki, simulasi games, agar siswa dapat terbiasa untuk mengembangkan kemampuan berpikirnya dalam konteks pemberdayaan potensi otak siswa.
2.      Menciptakan lingkungan pembelajaran yang menyenangkan. Hindarilah situasi pembelajaran yang membuat siswa merasa tidak nyaman dan tidak senang terlibat di dalamnya. Lakukan kegiatan pembelajaran dengan diskusi kelompok yang diselingi dengan permainan-permainan menarik, dan upaya-upaya lainnya yang mengeliminasi rasa tidak nyaman pada diri siswa. seseorang akan belajar dengan segenap kemampuan apabila dia menyukai apa yang dia pelajari dan dia akan merasa senang terlibat di dalamnya.
3.      Menciptakan situasi pembelajaran yang aktif dan bermakna bagi siswa. Siswa sebagai pembelajar dirangsang melalui kegiatan pembelajaran untuk dapat membangun pengetahuan mereka melalui proses belajar aktif yang mereka lakukan sendiri. Bangun situasi pembelajaran yang memungkinkan seluruh anggota badan siswa beraktivitas secara optimal, misal mata siswa digunakan untuk membaca dan mengamati, tangan siswa bergerak untuk menulis, kaki siswa bergerak untuk mengikuti permainan dalam pembelajaran, mulut siswa aktif bertanya dan berdiskusi, dan aktivitas produktif anggota badan lainnya. Selain itu , alasan menggunakan metode based learning ialah:
·         Meningkat pendidikan untuk semua siswa
·         Mengubah pola mengajar dari memberitahu ke melakukan
·         Menyediakan kesempatan bagi siswa untuk belajar sesuai dengan minat dan membuat keputusan sendiri
·         Memberi kesempatan siswa untuk berdiskusi tentang bagaimana mereka akan menemukan jawaban pertanyaan atau memecahkan masalah
·         Memungkinkan siswa melek teknologi
·         Melengkapi siswa dengan keterampilan dan rasa percaya diri untuk sukses pada kompetisi global
·         Mengajarkan inti kurikulum dengan cara interdisiplin
Biasanya, based learning digunakan oleh seorang guru ataupun dosen ketika mengajarkan keterampilan berpikir dan keterampilan memecahkan masalah, pertanyaan menarik mionat siswa, bila melatih siswa menjadi pebelajar yang madiri, serta pertanyaan mempunyai kemungkinan jawaban lebih dari satu
Contoh metode based learning: Guru memberikan suatu studi kasus mengenai kondisi suatu daerah tertentu yang kekurangan gizi sehingga menyebabkan rendahnya produksi daerah tersebut. Maka para siswa diminta untuk menyelesaikan dua masalah yang saling berkaitan itu dengan mempertimbangkan kondisi daerah itu secara keseluruhan termasuk soal keuangan, kelembagaan dan sumber-sumber lainnya yang tersedia bagi pembangunan.
A.    CIRI- CIRI METODE BASED LEARNING
·         Mengorientasikan siswa kepada masalah autentik
·         Membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir, pemecahan masalah, keterampilan intelektual, dan belajar berbagai peran orang dewasa dengan terlibat dalam pengalaman nyata/simulasi
·         Berfokus pada keterkaitan antar disiplin
·         Penyelidikan autentik
·         Menghasilkan produk/karya dan memamerkannya
·         Menghindari pembelajaran terisolasi dan berpusat pada guru
·         Menciptakan pembelajaran interdisiplin, berpusat pada siswa dalam jangka waktu lama
·         Terintegrasi dengan dunia nyata dan pengalaman praktis
·         Mengajarkan kepada siswa untuk mampu menerapkan apa yang mereka pelajari di sekolah dalam kehidupannya yang panjang
·          Pembelajaran berpusat pada siswa.
·         Pembelajaran terjadi pada kelompok kecil.
·         Guru berperan sebagai tutor dan pembimbing.
·         Masalah diformulasikan untuk memfokuskan dan merangsang pembelajaran
·         Masalah adalah kenderaan untuk pengembangan keterampilan pemecahan masalah.
·         Informasi baru diperoleh lewat belajar mandiri.
B.     TUJUAN METODE BASED LEARNING
·         Mengembangkan pengetahuan, tentang apakah yang dilakukan dan bagaimana melakukan hal tersebut
·         Mengembangkan sikap, tentang keinginan atau kemauan untuk mempraktekkan apa yang telah dipelajari
·         Mengembangkan keterampilan, tentang abilitas untuk menerapkan pengetahuan yang telah diperoleh melalui proses latihan pada pekerjaan tertentu.
·         Melatih siswa berpikir tingkat tinggi dan pemecahan masalah,
·         Melatih siswa menjadi pebelajar yang mandiri (self regulated learning)
·         Memperluas pandangan
·         Siswa didorong menggunakan pengetahuan dan pengalamannya untuk memecahkan masalah
·         Siswa mamapu menyatakan pendapatnya secara lisan. Hal itu melatih kehidupan yang demokratis.
·         Memberi kemungkinan pada siswa untuk belajar berparisipasi dalam pembicaraan untuk memecahkan suatu masalah bersama
·         Mengembangkan keterampilan bertanya, berkomunikasi, menafsirkan, dan menyimpulkan pada diri siswa.
·         Mengembangkan kemampuan memecahkan masalah dan konsep diri yang lebih positif
·         Membantu mengembangkan kepemimpinan
·         Memberi kemungkinan untuk saling mengemukakan pendapat
·         Mengembangkan rasa sosial, karena bisa saling membantu dalam memecahkan soal Sementara itu, guru mempunyai peran sebagai berikut:
·         Mengajukan masalah otentik/mengorientasikan siswa/mahasiswa kepada masalah
·         Memfasilitasi/membimbing penyelidikan pada saat pengamatan atau eksperimen
·         Memfasilitasi dialog antara siswa
·          Mendukung belajar siswa
·         Memberikan instruksi verbal kepada siswa untuk membantu siswa memecahkan masalah. Instruksi verbal maksudnya ialah membimbing atau menjuruskan pemikiran pelajar itu ke arah tertentu.

2.1.3 Based instruction
Model pembelajaran yang menggunakan pendekatan mengajar yang dapat membantu siswa mempelajari keterampilan dasar dan memperoleh pengetahuan langkah demi langkah adalah model pengajaran langsung (direct intruction).
Menurut Arends (2001): ”A teaching model that is aimed at helping student learn basic skills and knowledge that can be taught in a step-by-step fashion. For our purposes here, the model is labeled the direct instruction model”.
Artinya: “Sebuah model pengajaran yang bertujuan untuk membantu siswa mempelajari keterampilan dasar dan pengetahuan yang dapat diajarkan langkah-demi-langkah. Untuk tujuan tersebut, model yang digunakan dinamakan model pengajaran langsung.
Model pengajaran langsung (direct instruction) dilandasi oleh teori belajar perilaku yang berpandangan bahwa belajar bergantung pada pengalaman termasuk pemberian umpan balik. Satu penerapan teori perilaku dalam belajar adalah pemberian penguatan. Umpan balik kepada siswa dalam pembelajaran merupakan penguatan yang merupakan penerapan teori perilaku tersebut.
     Arends (1997) menyatakan: “The direct instruction model was specifically designed to promote student learning of procedural knowledge and declarative knowledge that is well structured and can be taught in a step-by-step fashion”.
Artinya: Model pengajaranlangsung secarakhusus dirancang untuk mempromosikan belajar siswa dengan pengetahuan prosedural dan pengetahuan deklaratif yang terstruktur dengan baik dan dapat diajarkan secara langkah-demi-langkah. Lebih lanjut
Arends (2001) menyatakan: ”Direct instruction is a teacher-centered model that has five steps: establishing set, explanation and/or demonstration, guided practice, feedback, and extended practice a direct instruction lesson requires careful orchestration by the teacher and a learning environment that businesslike and task-oriented”.
Artinya: Pengajaran langsung adalah model berpusat pada guru yang memiliki lima langkah: menetapkan tujuan, penjelasan danatau demonstrasi, panduan praktek, umpanbalik, dan perluasan praktek.
 Pelajaran dalam pengajaran langsung memerlukan perencanaan yang hati-hati oleh guru dan lingkungan belajar yang menyenangkan dan berorientasi tugas
Model pengajaran langsung memberikan kesempatan siswa belajar dengan mengamati secara selektif, mengingat dan menirukan apa yang dimodelkan gurunya. Oleh karena itu hal penting yang harus diperhatikan dalam menerapkan model pengajaran langsung adalah menghindari menyampaikan pengetahuan yang terlalu kompleks. Di samping itu, model pengajaran langsung mengutamakan pendekatan deklaratif dengan titik berat pada proses belajar konsep dan keterampilan motorik, sehingga menciptakan suasana pembelajaran yang lebih terstruktur.
Guru yang menggunakan model pengajaran langsung tersebut bertanggung jawab dalam mengidentifikasi tujuan pembelajaran,   struktur materi, dan keterampilan dasar yang akan diajarkan. Kemudian menyampaikan pengetahuan kepada siswa, memberikan pemodelan/demonstrasi, memberikan kesempatan pada siswa untuk berlatih menerapkan konsep/keterampilan yang telah dipelajari, dan memberikan umpan balik.





Karakteristik:
 Salah satu karakteristik dari suatu model pembelajaran adalah adanya sintaks/tahapan pembelajaran. Selain harus memperhatikan sintaks, guru yang akan menggunakan pengajaran langsung juga harus memperhatikan variabel-variabel lingkungan lain, yaitu fokus akademik, arahan dan kontrol guru, harapan yang tinggi untuk kemajuan siswa, waktu dan dampak dari pembelajaran.
Fokus akademik merupakan prioritas pemilihan tugas-tugas yang harus dilakukan siswa selama pembelajaran, aktivitas akademik harus ditekankan. Pengarahan dan kontrol guru terjadi ketika memilih tugas-tugas siswa dan melaksanakan pembelajaran, menentukan kelompok, berperan sebagai sumber belajar selama pembelajaran dan meminimalkan kegiatan non akademik. Kegiatan pembelajaran diarahkan pada pencapaian tujuan sehingga guru memiliki harapan yang tinggi terhadap tugas-tugas yang harus dilaksanakan oleh siswa.
Sintaks model pengajaran langsung memiliki 5 tahapan, sebagai berikut:
Fase 1 : Fase Orientasi
Pada fase ini guru memberikan kerangka pelajaran dan orientasi terhadap materi pelajaran yang meliputi:
Kegiatan pendahuluan untuk mengetahui pengetahuan yang relevan dengan pengetahuan yang telah dimiliki siswa
1)      Mendiskusikan atau menginformasikan tujuan pembelajaran
2)      Memberi penjelasan atau arahan mengenai kegiatan yang akan dilakukan
3)      Menginformasikan materi atau konsep yang akan digunakan dan kegiatan yang akan dilakukan selama pembelajaran
4)      Menginformasikan kerangka pelajaran
5)      Memotivasi siswa
Fase 2 : Fase Presentasi/Demonstrasi
Pada fase ini guru menyajikan materi pelajaran baik berupa konsep atau keterampilan yang meliputi:
1)      Penyajian materi
2)      Pemberian contoh konsep
3)      Pemodelan/peragaan keterampilan
4)      Menjelaskan ulang hal yang dianggap sulit atau kurang dimengerti oleh siswa
Fase 3 : Fase Latihan Terstruktur
Dalam fase ini, guru merencanakan dan memberikan bimbingan kepada siswa untuk melakukan latihan-latihan awal. Guru memberikan penguatan terhadap respon siswa yang benar dan mengoreksi yang salah
Fase 4 : Fase Latihan Terbimbing
Pada fase ini, siswa diberi kesempatan untuk berlatih konsep dan keterampilan serta menerapkan pengetahuan atau keterampilan tersebut ke situasi kehidupan nyata. Latihan terbimbing ini dapat digunakan guru untuk mengakses kemampuan siswa dalam melakukan tugas, mengecek apakah siswa telah berhasil melakukan tugas dengan baik atau tidak, serta memberikan umpan balik. Guru memonitor dan memberikan bimbingan jika perlu.

Fase 5 : Fase Latihan Mandiri
Siswa melakukan kegiatan latihan secara mandiri, dan guru memberikan umpan balik bagi keberhasilan siswa.















BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan
Metode pembelajaran ceramah tidak efektif untuk diterapkan dalam perkuliahan karena segala aktifitas dalam kelas hanya dititik beratkan terhadap guru, sedangakan peseta didik  hanya menjadi pendengar saja/pasif. Maka dari itu dibutuhkan  metode yang lain, seperti besed learning atau besed intruction. Karena dua itu lebih menitik beratkan segala aktivitas kepada siswa dan guru hanya menjadi fasilitator saja.
3.2 Saran
Begitu banyak hal yang menakjubkan dalam metode-metode pembelajaran pada saat ini, hingga menjadikan peserta didik lebih efektif dan aktif dalam proses belajar mengajar, dan begitu banyak pula kekurangan-kekurangan saya dalam menyusun makalah ini. maka dari itu  kritik dan saran, saya harapkan dari pembaca guna membangun kekreativitasan saya untuk mendapatkan hasil yang lebih baik.
















DAFTAR PUSTAKA
Ø  Santrock John W, Educational Psycology, The McGraw HillComnies, Inc., 2004



[1] Jhon W Santrock Educational Psychology, 2 nd Editon (New York : The Mc Graw Hillcompanies,Inc., 2004), h. 301-302

Tidak ada komentar:

Posting Komentar